soulmate...
...tetaplah bersinar dalam gelapku, dimanapun aku, dimanapun kamu...
...entah kenapa Dia sangat menyayangiku hingga di singkat hidupku dipertemukanNyalah kita...
...dan aku kembali jatuh cinta padaNya...
...dan kamu, setengah jiwa...
| Sun | Mon | Tue | Wed | Thu | Fri | Sat |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 2 | |||||
| 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 |
| 10 | 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 |
| 17 | 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 |
| 24 | 25 | 26 | 27 | 28 | 29 |
...tetaplah bersinar dalam gelapku, dimanapun aku, dimanapun kamu...
...entah kenapa Dia sangat menyayangiku hingga di singkat hidupku dipertemukanNyalah kita...
...dan aku kembali jatuh cinta padaNya...
...dan kamu, setengah jiwa...
Kadang aku sangat membencimu, Adam.
Dalam ribuan wujudmu sesungguhnya kau tak beda
Hari-hari kau dinginkanku dalam diam
Atau lainnya saat manismu terkirim langkap berbisa
Garis senja memudar untuk kembali
Begitupun keberdaaanmu yang tak pasti
Pinta agar segera terbunuh diri
Sepertinya takkan pernah terjadi
Jangan berhenti berpura-pura
walau sungguh ku tahu kau siapa
kau, tetaplah seolah ada cinta
ku kan tetap jadi seolah Hawa.
Aku tidak pernah membayangkanmu
Atau mungkin pernah tanpa kusadari
Samar kukenali dingin yang beku
Sekilas kelebat di sedikit mimpi
Kini kita bersama dan aku coba paham
Rupamu, rasamu, hatimu, tak ada kecuali
Tak ada lain padamu selain kejam
Bahkan bisikmu terlalu sulit dimengerti
Aku memerlukanmu memang karena suatu alasan
Aku butuh kamu memang tak kupunya pilihan
Harus kunikmati kaku hati tak boleh bergerak
Padanya yang lemah ku kan berkata: "Tidak"
tak bisakah kausayangi aku sedikit lagi?
karena kita terpaksa bersama mulai kini
Tak bisakah kita berdua coba nikmati
Malam sepi sambil menunggu pagi?
...dan kau tau kupun ingin kembali.
Pulang ke istana penuh peri....
Dimana ku merasa tak pernah sendiri
Dimana ku merasa tak pernah sendiri
Dunia, seluas apapun kamu
Takkan pernah bisa tahu
Perih hati setiap melangkah pergi
Menjauh dari dia, setengah diri
Dunia, aku lebih bisa membayangkan
Setiap sudut yang jadi akhiranmu
Tapi bila nanti aku harus kehilangan?
Setiap sisinya yang lengkapiku?
Rasanya aku takkan mampu.
Dia menyentuhku seperti yang kumau
Dia memelukku seperti yang kurindu
Dia hadiri hidupku tanpa kuminta
Dia lengkapiku dengan sempurna
Dialah dia, dia yang takkan terdua.
Meski sepertinya...
Tapi sesungguhnya...
Dialah dia, dia yang takkan terdua.
aku ada.
disini...
mungkin belakangan ini mengalami sedikit 'kerepotan' dalam masalah 'health' tea lah...
heuheu..
sebetulnya nggak pengen ketawa juga sih, tp abis mau gimana lagi.
Nggak usah dibahas lah...
Cuma pengen cepet selesai, cepet beres, trus kembali mendekati si mimpi...
well...hidup mulai menunjukan kemisteriusannya, dan walaupun kerasa agak kejam, tapi sangat menggoda.
Mysterius & Sexy thing's always be my fav...whaha, tertawa sedikit lah ditengah rasa perih, dan itu akan membuat dingin terusir dari dalam pikiran dan hati kita...
Cuma pengen kuat, nggak cengeng dan nggak nyusahin tiga cinta dalam hidupku itu, juga empat lainnya, dan...dia.
Doain ya.
:)
...jadi, sore itu di brussel yang dingin mampus dan sedikit gerimis. Pria-pria tampan dan wanita-wanita cantik termasuk gw (MAUNYAA!!), beredar di trotoar Rue Royale. Sore menyenangkan bersama kedua orang tua dan sang adik, sesuatu yang cuma bisa keluarga ini nikmati setahun dua kali paling banyak, bukan karena nggak mau, tapi karena nepal-belanda-indonesia belum bisa diatasi dengan hanya beberapa menit perjalanan saja...Butuh berjam-jam, dan duit nan banyak...jadi tau diri dooong...Ape lagi jadi curhat..huahaha..
...anyway, it was very romantic and nice, despite the cold wind-we were really enjoying our chat. One thing led to another, sampai tiba-tiba kita berempat termenung gara-gara sebuah cerita yang disampein sang ibu (lupa ceritanya apa...sesuatu tentang misunderstanding lah pokoknya)...
Trus sang Ayah bilang: "Well, as the old said, 'it's your mind that creates the world'..."
Trus si saya nyeletuk: "Yeah, i once said, 'everything is what we think it is'..."
Trus sang ibu menjawab: "Perception is reality."
...Dan adik gw yang tadinya lagi asyik ngeliatin seorang bule seksi jadi ngerasa terbebani karena kita bertiga udah mengungkapkan sesuatu yang kurang lebih serupa lewat kalimat yang berbeda, tinggal dia aja yang belum.
Akhirnya dia berdehem: "ehm...No smoking."
...Ngakak, itu pasti. Tapi jujur, dengan caranya yang sederhana dia udah nyepet abis kebiasaan orang kita...U know, sering banget kita ngerasa harus ngomong karena semua orang disekitar kita udah ngomong. Jadi akhirnya kita ngomong juga, walaupun sebetulnya kita nggak tau apa-apa...Peduli amat lah, yang penting ngomong...
hmmm...dasar... =))
(ini bukan nuduh lho, ini mah curhat, yang kesepet teh saya....hehehe...Yah, sebuah pelajaran bagus, dik...:))
...but the pain is still beautiful.
Kalaupun aku bisa kembali dan memilih, ku kan tetap memilih yang pernah terlewati bersamamu, meski jauh darimu kini hampir menggilakanku.
Coz something named love really worth the wait, the pain,even the tears.
Entah sudah keberapa puluh kali aku melihat lengannya berdarah-darah seperti ini. Kalau saja darah-darah itu mengering, akan tampak guratan yang tak terhitung disana, kiri dan kanan sama saja.
Jangan tanya soal cara lain membunuh dirinya seperti obat-obatan, atau racun sekalipun. Itu sudah terlalu sering dilakukannya sampai mungkin badannya sudah terbiasa. Sudah mati rasa.
Katanya dia lakukan itu karena aku. Karena aku tidak mau lagi ada disisinya, karena aku tidak mau lagi menjaganya, karena aku tidak mau lagi meneruskan sebuah cerita panjang yang pernah kumiliki dulu dengannya.
”I love you so much more than i love myself.”
Kalimat itupun entah sudah berapa juta kali terlontar lemah darinya dalam keadaan yang nyaris sama seperti sekarang: tak berdaya. Selang infus dan tabung oksigen membelit tubuhnya, perban mulai dibalutkan menutupi lukanya, dan air mata tak henti mengalir dari kedua matanya.
Perasaanku?
Entahlah. Aku bingung. Aku lelah. Lelah mengikuti apapun yang sedang dia lakukan. Sebuah drama yang rasanya terlalu panjang. Bahkan sudah tidak bisa lagi aku menangis melihatnya.
Dokter yang menangani dia tampak berpikir keras sambil bergantian melirikku dan meliriknya. Mungkin dokter itu sudah beberapa kali menolong dia dengan kasus yang sama, dan selalu aku juga menemaninya. Mungkin dokter itu juga pernah menyalahkanku dan berpikir aku adalah perempuan brengsek yang tidak bisa menjaga kekasihnya. Tapi tampaknya sekarang dokter itu mulai mencurigai dugaannya itu salah.
Salah besar, dokter.
Helaan nafasku semakin berat, dan dzikir di hatiku semakin cepat. Aku memperhatikan seluruh sudut ruang UGD dan menyadari hari ini lengkap sudah jumlah sudut yang pernah dia tempati. Semua sudut, semua tempat tidur, semua dokter, semua suster....
Semuanya sudah pernah berkenalan dengan seorang pasien bernama Rafi. Hanya satu tahun aku mengenalnya sebagai sosok yang menyenangkan. Di tahun kedua dia mulai sering mengucapkan kalimat itu. Kalimat yang semakin sering memicu pertengkaran antaraku dan dia.
”Aku cinta kamu lebih dari aku mencintai diriku sendiri, kenapa kamu nggak bisa ngorbanin satu hal aja buat aku?” menjadi kalimat lain yang sering terucap dari bibirnya. Membuatku frustrasi karena makin lama ’satu hal’ menjadi ’dua hal’, menjadi ’tiga hal’, ’empat hal’... Aku lelah.
Akhirnya, ”Aku ngorbanin segalanya buat kamu, kenapa kamu nggak mau ngorbanin agamamu buat aku?”
Aku terkesiap waktu itu demi mendengar pernyataan itu. Bagaimana bisa dia menginginkan hal itu dariku? Sedangkan dari jauh-jauh hari statement ku sudah jelas: ”Sejauh-jauhnya tingkat toleransiku ya tetap jalan dengan beda agama.”
Tapi buatnya itu tidak cukup.
Entah kenapa penting sekali baginya kami berdua mempunyai ejaan yang sama di kotak ’agama’ dalam ktp kami. Padahal bukankah yang penting adalah kami berdua sama-sama mengamalkan kebaikan yang diajarkan agama kami masing-masing? Waktu aku akhirnya tetap berkata tidak, dia berkata konsekuensi yang harus kuhadapi adalah berpisah dengannya.
Aku terima. Aku rela, daripada harus tetap bersama tapi terpaksa dan tidak bahagia.
Aku sedih, tapi juga aku berusaha rasional...Kalo memang belum jodoh ya sudah. Saat itulah kegilaannya dimulai.
Mengiris pergelangan tangan, meminum obat tidur, meminum racun...Dan bersamaan dengan itu pulalah aku mulai rutin mendatangi ruang gawat darurat di rumah sakit ini.
Skenarionya selalu sama: Rafi menelfonku meracau-racau, aku panik mendatangi kostan nya, memasukan dia ke mobilku dan melarikan dia kesini. Lalu setelah dia tenang aku akan berbicara dengan dokter untuk mengetahui apakah dia harus menginap atau tidak. Kalau dia harus menginap aku akan mengurus semua untuknya lalu menungguinya sampai dia sembuh, kalau tidak aku akan mengantarkannya pulang lagi. Awalnya dulu aku selalu menangis dan memarahinya, berkata bahwa dia membuatku khawatir dan membuatku hampir gila. Tapi sekarang aku merasa sudah kehabisan kata-kata, aku curiga jangan-jangan aku sudah ikut-ikutan gila.
Hidupnya sulit. Keluarganya yang dulu hidup mewah oleh karena sesuatu jadi harus hidup pas-pasan. Dia yang dulu bergaya hidup sangat wah, sekarang justru harus sangat melakukan pengiritan. Belum lagi masalah ayahnya yang sakit keras dan seluruh keluarga besarnya dengan segala tuntutan mereka untuk Rafi. Hidupnya sulit. Apalagi saat aku juga ikut-ikutan menjadi beban pikirannya. Semakin seringlah peristiwa berdarah macam hari ini terjadi. Tapi terus terang aku bingung. Yang kuingat dia yang memutuskan hubungan denganku karena aku tidak mau mengikuti agamanya. Tapi lalu dia melakukan semua ini seakan-akan mengatakan, ”Hei, sebegini dalamnyalah perasaanku untukmu.”.
Tapi ketika aku bertanya apa dia sudah bisa berkompromi dengan ’tetap jalan walau beda agama’, Rafi tetap bilang dia tidak bisa.
Terus begitu berulang-ulang... Apa sebetulnya yang dia harapkan? Setelah sebelumnya aku selalu merasa sedih dan menangis melihat keadaan Rafi seperti ini, kali ini justru rasa marah yang menggelegak dalam diriku.
”Untuk kesekian ratus kalinya aku tanya kamu, Rafi...Buat apa kamu begini?”
”Aku cape.”, katanya lemah.
”Jadi kalau kamu begini capek mu hilang, begitu? Masalahmu semua terselesaikan? Ayahmu akan sembuh, hidup akan kembali ceria seperti dulu lagi?”
”Bukan itu, aku ingin kamu kembali.”, desahnya.
”Jadi ini cara yang menurut kamu bisa membuat aku mau kembali sama kamu?”, tanyaku dingin. ”Kamu sama sekali nggak kenal aku.”
”Aku cinta kamu, lebih dari aku mencintai diriku sendiri.”, ah...lagi-lagi dikatakannya kalimat itu.
Aku menatap Rafi tajam dan memberi reaksi berbeda dari biasa kali ini, ”Bullshit.”
Rafi terkejut. Terkejut karena aku bukannya mengusap-usap dan menghibur dia seperti biasanya. Terkejut karena aku bukannya tersenyum menenangkan dia. Terkejut karena kali ini tidak ada air mata yang kuteteskan, ”Aku serius.”, katanya.
”Aku juga serius.Kalau kamu pikir masalah kamu akan selesai dengan cara seperti ini kenapa kamu masih hidup? Dari sekian puluh kali kamu lakuin ini, apa kamu nggak belajar cara yang tepat dan benar untuk bunuh diri? Kenapa kamu nggak pernah bener-bener mati aja sekalian??”
Rafi tercekat.
”Kalau kamu emang mau bunuh diri harusnya kamu iris lengan kamu lebih dalem dari ini.”, aku menunjuk pergelangan tangannya. ”Anak sd juga tau kalau cuma digores cutter doang sih nadinya nggak akan kenapa-kenapa.”
”Kamu...” , Rafi terhenyak.
Mengela nafas, kumulai rentetan kalimat makian yang entah kudapat darimana, ”Apa? Kamu mau nuduh aku apa sekarang?”
”Aku berubah? Aku nggak cinta sama kamu lagi?”
Aku berusaha mengingat apa lagi tuduhan yang pernah dilontarkannya dalam usaha Rafi membunuh karakterku secara perlahan...Sialan, jangan-janga dia berhasil... Oh ya, aku ingat line lain, ”Aku jahat?”
”Apalagi tuduhan kamu buat aku, Fi???”
”Kamu SOK TAU!”
”Kamu nggak usah sok tau nebak-nebak perasaan orang...”, aku terengah lalu berhasil menenangkan diri, ”Kamu nggak bener-bener pengen mati. Kamu cuma pengen dapetin apa yang kamu mau dengan cara menyerang kelemahanku yang paling nggak bisa liat orang kesakitan. Kamu egois, pengecut dan nggak berprasaan.”
”Stop.”, wajahnya pias.
Huh, wajah Rafi...peduli setan...Kalau ada yang berhasil dibunuhnya dari semua usaha bunuh diri itu, itu pasti aku. Rasanya aku sekarang bagaikan raga yang bergerak bebas tanpa terbebani perasaan sama sekali, bergerak dan berteriak tanpa hati.
”Ini yang terakhir kali aku disini, Fi. Mulai besok kamu nggak akan bisa ngontak aku lagi. Aku udah lakukan yang terbaik buat kamu dan kalau itu masih belum cukup, itu bukan salahku. Kalau kamu mau mati, silahkan. Itu tubuhmu, itu hidupmu, bukan aku. Aku tidak bertanggung jawab apapun atas kamu. Sekali lagi: aku sudah lakukan yang terbaik buatmu dan aku menyerah. Mulai sekarang, urus dan bertanggung jawablah kamu sama diri kamu sendiri. Jangan pernah berharap aku akan kembali padamu karena caramu inilah yang menyadarkan aku, kamu sesungguhnya hidup hanya untuk memuaskan obsesimu sendiri.”
”Nggak, aku hidup untuk kamu.”
Aku menghela nafas, ”Bullshit.”
”Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai diriku sendiri.”
”Percayalah itu adalah omong kosong yang paling parah darimu.”, potongku. ”Kalau kamu cinta padaku tidak akan kamu lakukan ini semua, membuatku khawatir, menangis dan pontang-panting merasa bersalah...berulang-ulang pula. Nggak akan mungkin kamu tau cara mencintaiku kalau kamu bahkan nggak bisa mencintai dirimu sendiri. Kamu akan membahagiakanku kalau kamu memang mencintaiku, dan bukannya malah menyiksaku.”, aku melangkah keluar kamar. ”Kamu nggak akan pernah bisa dapetin cinta yang kamu mau kalau bukan dari dirimu sendiri, Fi, orang lain hanya melengkapimu...Aku sedang belajar mencintai diriku sendiri, itulah alasanku untuk pergi.”
”I’ll die without you.”, bisiknya.
“You won’t”, bantahku. “Kamu belum pantas untuk mati…kamu masih terlalu egois dan satu-satunya yang pantas mendapat kalimat terakhir kamu tadi adalah Tuhan...the one you should have been in love the most.”
Aku keluar, melunasi pembayaran rumah sakit dan pulang.
Cita-cita...
Cinta-cinta...
Cita atau cinta?
Cita-cita atau cinta-cinta?
Cita gila atau cinta gila?
Cinta bukan cita-cita
Cita-cita juga bukan cinta.
Jangan bermain-main dengan cinta....
Apalagi dengan cita-cita...
Paling tidak jangan didepanku, cinta.
Cita-citaku selama ini hanya tuk satu cinta.
Cinta yang jadi cita-cita.
Cita-cita yang penuh cinta.
Jangan bercita-cita menghalangi cinta.
Cinta yang penuh cita-cita. Cinta yang tidak biasa.
Cita-cita cinta yang istimewa.
Istimewakan cinta dengan cita-cita.
...bukankah satu-satunya cintaku seharusnya menjadi cita-citaku.
...bukankah cara mencintai cita-cita bukan dengan cara memaksanya mengalah atas nama cinta...
tidak serumit yang terkira...
cukup dengan percaya
kita ada untuknya
buatlah dia merasa...
dicintai semua cita-citanya..
buatlah dia merasa...bahagia.
4 my very bestfriend: 'd', show me who i believe you really are, please...Cepat pulang!
Date : 19 April 2006 16.10
From : Kintan
Jadi latihan band nggak, monyet? So sorry eike nggak hadir ya, abis dengan bodohnya gue salah nyatet jadwal MC gue…Kirain gue mulainya besok, ternyata hari ini…Haduuuh, tapi gue sungguh-sungguh ingin sekali hadir disana lho…kangen lo semua!
Date : 19 April 2006 18.03
From : Erland
Berhenti deh manggil gue monyet, Monyet! Jadi latian tadi, baru aja kelar, ngegarap lagu yang kemaren bikin bareng lo itu, tau deh lo suka atau nggak, ntar liat aja. Kita juga kangen lo (oooh, so sweeetttt!) btw, lo kemaren bilang lo ‘perlu kehadiran lelaki-lelaki baru untuk menghiasi hari2 yang semakin garing’? Lo pasti nyesel karena nggak ada disini…
Date : 19 April 2006 18.05
From : Kintan
Emangnya kenapa?
Date : 19 April 2006 18.06
From : Erland
Ada Indra gitarisnya Encarta yang lo kecengin itu loh…
Date : 19 April 2006 18.07
From : Kintan
Sebodo amat ah…It’s you guys that I missed the most!
Date : 19 April 2006 18.11
From : Erland
Oooooooooh so sweeeeetttt! Tumben amat lo
nggak semangat denger ‘Indra Encarta’…Gue jadi curiga…Lo sakit ya? Lo stress
ya? Lo nggak pa-pa
Date : 19 April 2006 18.14
From : Kintan
MONYET! Banyak amat pertanyaan lo…buset deh…gue nggak siaran, ijin demi duit yang berkali-kali lipat…hehehe (boleh dong, penyiarkan juga manusia!!!) gue nggak sakit, gue baek2 aja, tapi gimana gue bisa mikirin Indra sementara gue disini sedang berada di tengah-tengah ruangan yang berisi orang-orang smart dari Ulinever yang beberapa diantaranya lucu-lucu??
Date : 19 April 2006 18.16
From : Erland
Lo ngemsi acara apaan sih ada orang Ulinever
segala? Ulinever itu yang perusahaan produk rumah tangga multinasional itu
Date : 19 April 2006 18.18
From : Kintan
Iya betul skali, tumben lo nggak bodo?Mereka bikin training disini dua hari, di hotel Malya, jadi gue moderatornya, gituh, dodol… Nah, beberapa diantara cowok-cowok smart ini tampak lucu dan mulai make move begitulah…hahaha…lumayan…
Date : 19 April 2006 18.19
From : Erland
Heh, kumat lo jiwa playernya, dasar gawat…Boleh gue nanya sesuatu nggak? Kenapa sih lo kok bisa punya jiwa sebebas ini…Kecenderungan sangat kuat buat jadi player?
Date : 19 April 2006 18.19
From : Kintan
Suatu hari gue mungkin
bakal bisa jawab, tapi skarang…hmmm…entah ya, mas…
Date : 19
April 2006 18.21
From : Erland
Tapi yah sudahlah, asal inget aja...
Date : 19
April 2006 18.24
From :
Kintan
Apeee…?? Pasti lo mau bilang ”Ati-ati, lho, Kin...Daripada sakit hati ntarnya
mendingan....” Emang gue mau ngapain? Pake hati? Ya nggak lah... Beginian sih
cuma biar seru aja, sekalian daper referensi baru buat koleksi
gombalan-gombalan gue, iya nggak?
Date : 19
April 2006 18.26
From :
Erland
Yo wies kalo gitu, selamat menikmati…Whuahaha!! Ntar gue bagi ya
gombalannya...
Date : 19 April 2006 18.27
From : Kintan
Pasti baby! Udah, ah, singkatnya ada tiga cowok namanya Tio, Bobby, sama Riza…Tapi yang paling agresif ya si Riza ini..gawat deh. Versi lengkapnya menyusul ya, break magrib udah abis, mesti kembali bekerja! Wish me luck…
Date : 19 April 2006 18.30
From : Erland
Good luck…Eh, acara trainingnya sampe kapan bo…?
Date : 19 April 2006 18.40
From : Kintan
Kalo gue bilang gue kerja, gue kerja, stop sending me message! Gue ngemsi dua hari, hari ini dan besok terakhir…
Date : 19 April 2006 18.50
From : Erland
Maaf deh, maaaaafff…ampun dj…ya udah sampe ketemu lusa kalo gitu, tolong disiapkan cerita tentang para pria baru itu selengkap-lengkapnya…
*
Date : 20 April 2006 19.30
From : Kintan
Monyet…Lo tau gue lagi dimana?
Date : 20 April 2006 19.31
From : Erland
Tau dong…lo lagi ngemsi di Malya
Date : 20 April 2006 19.33
From : Kintan
Weee salah weee…Ternyata ya bo…farewell dinnernya dibikin di Puncrut! Di suatu bukit yang perjalanannya harus melewati jalanan tak beraspal yang kalau hari berhujan seperti hari ini berubah jadi rute offroad yang teramat berat...Jadi deh skarang gue terdampar dalam sebuah Land Rover yang terancam selip seperti ketiga pendahulunya...
Date : 20 April 2006 19.35
From : Erland
Puncrut?? Apa itu? Dimana itu? Tapi melihat mobil dan cerita lo,
tampak sedikit mengerikan…ati-ati lo Kin…
Date : 20 April 2006 19.40
From : Kintan
Kan gue udah bilang di sms gue tadi Puncrut itu nama bukit! Halaaah, dan emang berat ya bo, secara gue tadi turun mobil aja mesti di gendong sama temen gue yang…hihi…lumayan ganteng…gue udah sampe nih…
Date : 20 April 2006 19.41
From : Erland
Idih…Males…Trus gimana perkembangan para pria Ulinever?
Date : 20 April 2006 19.42
From : Kintan
Biasa aja, yang dua sih cukup sopan,
curi-curi waktu ngobrol sama gue kalo gue lagi nggak ngomong di depan…Paling
sopan Tio yang minta nomor hp gue barusan aja dengan alesan “Siapa tau perlu
Mc…”. Trus Bobby lumayanlah, dengan
cara halus tukeran kartu nama sama gue…
Date : 20 April 2006 19.45
From : Erland
Kalo Riza? Katanya dia yang paling agre?
Date : 20 April 2006 19.47
From : Kintan
Aduh, gue demen deh kalo lo inget semua yang
gue ceritain dengan detail…hihi…Riza? PARAH! Baru aja dia kirim sms ke gue yang
btw, lagi nonton aksi grup accapela nan indah di panggung
sana…Nih gue forward ya…
Date : 20 April 2006 19.47
From : Kintan
You should be the one who sing, Kintan. *Za*
Date : 20 April 2006 19.49
From : Erland
Aih mati…Lo jawab apa?
Date : 20 April 2006 19.50
From : Kintan
I’m singing, Za, 4 myself…J
Date : 20 April 2006 19.53
From : Erland
Yeah baby! Mulai seru…udah kita berhenti ngobrolnya, mendingan pulsa lo itu lo pake aja buat forward conversation lo sama dia. Ntar kita bahas via telp jam…hmmm…begitu lo udah kelar dan bisa telfon-telfonan lo telfon gue…
Date : 20 April 2006 19.55
From : Kintan
Sms terakhir Riza>> Look forward to hear your voice tonight after all of this, of course if you don’t mind…Would be my priviledge. As I said earlier, you are not a typical radio Dj/vocalist that I know before. They only have beautiful voice, but you also have beautiful smile. *smile with admiration* <<
Date : 20 April 2006 19.56
From : Kintan
Balesan gue>> Well…well, Mr Riza, u surely an expert on using sweet words, ya…Stop playing with your cell phone, listen to your boss up there…He’s giving some speech!<<
Date : 20 April 2006 19.57
From : Kintan
Riza lagi>> I’m not playing with my cell phone, I’m just thinking about other beautiful words for you, beautiful.<< (mati nggak sih lo, Er? Ni orang gencar amat, gue jadi serem, yang ini kagak gue bales, pusing gue mesti sms an sambil gawe!!)
Date : 20 April 2006 20.44
From : Kintan
Riza says>> Good performance u did tonight, Kintan…Kamu balik juga ke hotel kan? Ati-ati ya, perjalanan pulang lebih berat dari perginya tadi…Don’t want anything hurts you even a small scar…J Hope you’re already in the safe zone as I am.
Date : 20 April 2006 20.45
From : Kintan
Kintan says>>Thanks 4 d’compliment, Za. I’m also going back to the hotel, tapi belum ada di zona aman sama sekali, masih di daerah berlumpur parah…moga-moga sih nggak pa-pa. Untung ada hiburan bintang yang mulai keliatan setelah tadi ketutup awan, bagus skali deh…<<
Date : 20 April 2006 20.48
From : Kintan
Riza says>> No stars here yet though, I believe my star is still sit in one of the Land Rovers on the back…J<< (Buset! Agre…agre…ini player kelas gawat tau nggak, Er…hihi…)
Date : 20 April 2006 20.55
From : Kintan
…dan Kintan menjawab>> There are many Land Rovers and many people on your back, Riza…Don’t know exactly which one is the star you’re talking about…:p<<
Date : 20 April 2006 21.07
From : Kintan
Riza lagi>> Well, you surely know how to handle sweet word also, Kintan…<< (iyalah, lo kira baru lo doang apa yang gombalin gue? Dasar sok ganteng)
Date : 20 April 2006 21.50
From : Kintan
…jadi gue nggak ngobrol whatsoever sama dia sementara kita berdua dan semua orang lain lagi di poolside, nerusin farewell dinner dengan farewell party lengkap bersama om Dj dan googoo dancer..hiya…edun gini…Sms nya semenit yang lalu>> Jadi nggak nyanyi buat sy, Kintan?<<
Date : 20 April 2006 21.51
From : Erland
TIME UP! Penasaran banget, sori…hehe, dia tau darimana lo penyiar dan juga vokalis band?
Date : 20 April 2006 21.54
From : Kintan
Lha, kan dari kemarin dia deketin gue mulu, lo kira apa yang kita obrolin kalo bukan aktivitas gue? Harga cabe kriting? Atau cerainya Nia Paramita-Gusti Randa? Stupid…
Date : 20 April 2006 22.01
From : Kintan
Jawaban gue>> Sy
Date : 20 April 2006 22.04
From : Kintan
Riza lagi>> Kalo gitu…What if we go
alone walking outside..? Hmm, maybe exploring
together?<<
Date : 20 April 2006 22.06
From : Kintan
Kintan says>>I got an early meeting 2morrow, so gotta go home…So sorry.. J btw, why are we talking by sms, kenapa nggak ngobrol langsung aja sih?<< (Kalo lo tanya alesan gue kenapa nggak mau jalan sama dia, gue nggak tau, pokoknya gue ngerasa nggak mau aja, he’s not that attractive anyway, dan lagipula dia terlalu agresif, sekali lagi, agresif…Not my type…hiii…aneh…)
Date : 20 April 2006 22.07
From : Kintan
Kata Riza>> Don’t know why, maybe it’s more romantic this way…You’re going home? Wow…you broke my heart...two nights in a row<< (Tadi pagi dia nyapa gue dengan kalimat, “Where were you last night? After dinner I was looking 4 you but you were nowhere…I was so sad…”)
Date : 20 April 2006 22.15
From : Kintan
Gue udah dijalan pulang dan nerima sms lagi nih dari dia>> Sweet dream, Kintan…Nice knowing you…J<<
Date : 20 April 2006 22.16
From :Kintan
Kintan menjawab>> Nice knowing u 2, Za…Good night, continue our chat later ya…J<<
Date : 20 April 2006 22.20
From : Kintan
Rizapun muncul lagi>> I’m so sad…so sad driving all by myself exploring Bandung, wishing you’re here with me…<< (Sms yang ini kagak gue bales ah…Boros amat gue nge sms orang malamini, demi memenuhi hasrat lo yang pengen tau aja tentang cerita flirt gue yang ternyata agak freaky itu…Lo dimana, Er?)
Date : 20 April 2006 22.21
From : Erland
Di
rumah, kenapa? Lo dimana?
Date : 20 April 2006 22.22
From : Kintan
Baru sampe rumah juga…Online yuk?
Date : 20 April 2006 22.26
From : Erland
Ga bisa, YM
Date : 20 April 2006 22.28
From : Kintan
Gue ga punya msn...Gimana sih lo hari gini ga nginstall YM…mau jadi apa..Disuruh install juga gue udah tau jawaban lo: “Males ah, Kin…lama gitu lho…”…Huuuh… ya udah lah kita tetap sms an aja…
Date : 20 April 2006 22.30
From : Erland
Lo pasti mau cek FS lo ya…Dasar anak jaman…
Date : 20 April 2006 22.32
From : Kintan
SUKA-SUKA GUE!
Date : 20 April 2006 22.34
From : Erland
Yo
wies…ampun-ampun…Katanya lo mau telfon gue kalo udah kelar kerja? Mana?
Date : 20 April 2006 22.35
From : Kintan
BENTAR DONG AH, KAN UDAH TAU TELFONNYA LG DIPAKE KONEKSI
INTERNET…SABAAR, MONYET! Gue belum cerita one of the ulinevers itu ada sobat gue smp, trus dia tadi nge sms in gue suruh buka e-mail, katanya ada info lucu yang pasti mencerahkan malam gue...Jadi gue mau cek e-mail dulu...awas lo kalo protes...
Date : 20 April 2006 22.39
From : Kintan
Er? Di laptop lo ada internet explorer
Date : 20 April 2006 22.40
From : Erland
Ada dong...Masa gue separah itu ga punya internet explorer... kenapa emang?
Date : 20 April 2006 22.43
From : Kintan
Ikutin aja, buka FS lo, trus search for ‘Riza Novara’, trus lo buka dah. Liat tu profile dan foto-fotonya…
Date : 20 April 2006 22.46
From : Erland
Duh, aneh-aneh aja ide lo…bingung gue…Ini
Riza yang tadi gombalin lo itu
Date : 20 April 2006 22.48
From : Kintan
Iya. Udah nurut aja sih..!
Date : 20 April 2006 22.55
From : Erland
Jadi…Riza itu beristri dan punya anak? Gile bener...kok bisa ya dia
gombalin lo sampe gitu amat, padahal dia kan punya istri...ih...aneh...
Date : 20 April 2006 22.59
From : Kintan
Hmm..Lo inget pertanyaan lo kemaren >> Kenapa sih lo kok bisa punya jiwa sebebas ini…Kecenderungan sangat kuat buat jadi player?<< Well, kalo lo emang masih pengen tau, yang beginian inilah alasan terkuat gue, Er. Gimana gue bisa percaya sama kaum lo itu…?
Date : 20 April 2006 23.08
From : Erland
Lo
kok kaya marah gitu sih, Kin…Lo kecewa sama dia? Jangan-jangan lo udah kemakan
gombalannya ya?
Date : 20 April 2006 23.11
From : Kintan
Ngimpi lo indah? Mana ada gue kemakan
begituan? Gue leg ague nggak kena, tapi jujur gue emang marah…Kebayang kalau
gue lagi super iseng tadi, nge iya in aja ajakan dia jalan keliling
Date : 20 April 2006 23.15
From : Erland
Jadi kesimpulannya?
Date : 20 April 2006 23.19
From : Kintan
Satu kata aja buat cowok yang berani-berani nya nge gombalin gue dengan tampang innocent dan ngaku ke gue umurnya ‘mid 20’ padahal aslinya ‘early 30’, trus ngaku ke gue single padahal anak 2…mending juga kalau ganteng...
Date : 20 April 2006 23.21
From : Erland
Hihi, kaya lagunya Anggun jaman dulu…Mengaku, bujangan, kepada stiap wanita…ternyata...Eh, satu kata buat dia tadi kata lo…Satu katanya apa?
Date : 20 April 2006 23.22
From : Kintan
KAMPRET! KAMPRET!!!!!!
Date : 20 April 2006 23.24
From : Erland
WHUAHAHAHAHAHAAAAA!!!
dan kata-katamu yang larutkan aku
sempat terlintas sedikit cemburu
bukankah kita baru saja bertemu
Wajarkah jika ada setitik ragu?
Taburan warna warni diatas sana
perjalanan tak mudah yang temukan kita
Hanya aku dan kamu yang tahu artinya
pesan singkat itu tetaplah penuh makna
Kilasan senyum dan kerjapan mata
dan.. kukira aku tak bisa tergoda
Lalu mengapa indahmu membayang jua
Lalu gerakmu itu tetap saja mempesona
duapuluhempat jam itu terus bergerak
meninggalkan potongan cerita teramat manis
Duapuluhempat jam dan kau masih tampak
tak juga bisa usir harummu sampai habis...
hilangkan akalku
habiskan tangisku
dan kau masih takkan izinkan...
ku berhenti menentang hujan...
kau hantui setiap langkah
kau sepikan semua kisah
Apa sesungguhnya yang kau mau?
:: ...bintang terang, jangan hilang... ::
...belum bisa berhenti menginginkanmu
...belum bisa berhenti tetap memelukmu
...belum bisa berhenti hanya memikirkanmu
...belum bisa berhenti nikmati hangatmu
Katamu waktu tak pernah tepat
tapi tidakkah kita selalu dekat?
Kumencintaimu bintangku yang terang
Sampai habis nafas kau takkan hilang
"Aku ingin disayangi kamu."
"ingin habiskan hidup denganmu"
..hanya denganmu.
::end of march 2006::
Bandung lg... Sebetulnya kamu ga perlu banget deh ngeliatin muka meranamu itu
setiap ketemu aku. Kamu selalu bertanya, “Ben, kamu ga apa-apa ?”
Gak ada pertanyaan lain apa..?
Jelas-jelas aku sangat tidak
baik-baik saja, ko’ pake nanya sih?
“Kenapa sih elu bt ama gua ya?”
Herannya lagi kaya’ gitu masih
aja kamu tanyain. Emang kamu kira kenapa aku merengut terus setiap ketemu
kamu??
Coba kalau Jaka dateng, pacar
baru kamu itu..Huh, kamu tidak akan ingat lagi padaku, iya kan? Jaka yang baek, jaka yang pinter, Jaka
yang ganteng, pastilah cukup oke untuk merebut semua perhatian kamu yang dulu
Cuma ke sahabat kamu, Cuma ke aku!
Kamu
memang cantik Arsya. Banyak orang menyadari, termasuk aku. Tapi bukan hanya
karena kecantikan kamu itu aku mulai merasakan yang tidak beres dengan hatiku.
Setahun aku mengenalmu, aku banyak mendapati kelebihan lain dalam dirimu, salah
satunya adalah mendapati ketegaranmu, kedewasaanmu, kepekaanmu, kepedulian dan
kebaikan hatimu.
Itu semua yang menciptakan
ketidakberesan dalam hatiku sejak beberapa waktu yang lalu. Kurasa aku mulai
jatuh cinta pada kekeraskepalaanmu, kegalakanmu, kejudesan dan kekasaranmu.
Arsya kamu aneh, banyak sisi berlawanan terdapat dalam dirimu, tapi satu yang
paling aku hargai, semua sisi itu ada karena kamu selalu jujur, pada dirimu dan
orang lain. Dan keanehanmu itu, yang membuatku tidak bisa menolehkan hatiku
lagi ke arah yang lain kecuali kearahmu.
Aku sudah menyatakan isi hatiku
itu yang membuat kamu mencak-mencak. Aku tahu kamu tidak suka pada proses
peralihan sahabat-kekasih. “Itu suatu konflik yang berbahaya!” ujarmu setiap
kamu menceritakan cowok-cowok yang jatuh hati padamu sebelum aku. Rata-rata
semua juga melalui waktu yang lama untuk menyadari pesonamu, biasanya mereka
berawal dari menjadi temanmu, atau partner kerjamu di berbagai organisasi yang
kamu ikuti. Disanalah mereka mulai memperhatikanmu, mulai menganggapmu teman
yang baik, sampai lama-lama melihatmu sebagai sosok yang mengagumkan. Aku tahu
pasti proses itu karena akupun salah satu cowok— yang tidak seharusnya
mengalami hal yang sama karena kamu selalu menceritakan semua pengalaman pahit cowok-cowok
yang ditolak olehmu— mengalami hal itu. Tragis ya?
Lebih tragis lagi karena bukan
hanya cowok-cowok sebelum aku yang mengalami pengalaman pahit ditolak olehmu,
Arsya. Tapi aku juga mengalaminya! Kamu bilang dengan tegas (ketegasanmu itu
salah satu yang kusuka, walaupun waktu itu aku sama sekali tidak mengharapkan
hal itu.. Tentu saja, yang kuharapkan adalah kau menganggukan kepalamu dan
berkata, “Oke, Ruben, mulai sekarang kita pacaran ya..” ), “Ruben elu tahu kan gua ga suka
gantungin jawaban untuk pernyatan-pernyataan seperti ini, dan kali ini pun aku
akan langsung jawab : no. Elu sahabat gua, why can’t we keep it that way??”
Apalagi yang bisa aku katakana
selain, “Oke Sya, kita tetep sahabat.”
“Tunggu, Ben, kalau elu pengen
nya gimana sih?”
Oh, Arsya tentu saja yang aku
inginkan kamu menjadi pacarku? Apa kurang jelas aku mengatakannya tadi??
“Maksud gua, apa elu bakal
ngerasa comfee dengan situasi ini, atau kita perlu jaga jarak dulu? Gua
sih fine aja, walaupun sebel harus jaga jarak sama elu, tapi kalau menurut elu
itu yang terbaik, it’s ok.
Maksudmu
dengan jaga jarak perasaanku padamu akan berubah? Oh, get real dong, Arsya, kadang-kadang kamu terlalu naïf. “Ngga deh,
Sya, gua ga perlu jaga jarak ama elu, gua bisa ko bertingkah seperti biasa.”
“Bener, elu ga akan sakit hati
ke gua?”
Sakit sih ngga, Sya, cuma sedih
aja. “Ngga lah, kita harus prof dong…Iya ga?”
“Sip, itu baru Ruben. Ayo, kita
makan nasi timbel Istiqomah sekarang yo…Duit gua tinggal 5000 nih, cukupnya
buat nasi timbel doang, ga cukup buat yang lain, yah?”
Kenapa kamu bisa bersikap
spontan gitu ya, Sya. Kamu lucu!! Coba kasih aku satu saja alasan untuk tidak
jatuh cinta padamu, sebab semua sifatmu itu seperti sebuah perangkap yang….aku
bingung mencari kata yang tepat untuk menggambarkannya,”Ayo deh, lu kira duit
gua tinggal berapa?”
“Berapa?”
“10.000”
"Lho,kan masih mending daripada gua.”
“Iya, tapi kan gua utang 5000 ke elu.”
“Oh iya yah…” Kamu tersenyum
sebentar sambil mikir, ” Ya udah deh, utang ke guanya gua ubah jadi 2500, jadi
duit kita samaan sekarang, 7500. Yah?”
*
Kita sahabatan lumayan lancar
selama beberapa bulan sesudah itu, beberapa cowok lain juga menyusul tragedy
yang aku alami, hanya mereka tidak seberuntung aku masih bisa melihatmu dari
dekat, mencium wangi shampoo dari rambut panjangmu, mendapat perhatian yang
penuh darimu.
Aku tidak pernah merasa
kedudukanku terancam sampai Jaka yang Ketua OSIS kita itu mulai sering
membayangimu. Bukan masalah fisiknya yang lumayan ganteng— kalau ga mau
dibilang ganteng banget (itu kata cewek-cewek sekelas)— kalau masalah itu sih
aku juga berani adu tampang deh ama dia, tapi masalah kecerdasannya, wibawanya,
dan karismanya. Ia tidak akan terpilih jadi presiden mahasiswa kalau tidak
dicintai dan dipercaya oleh nyaris 75% penghuni kampus ini. Dalam masalah
organisasi, aku masuk diantara 75% itu. Tapi dalam hal kamu, Arsya, mungkin aku
masuk 25% lainnya yang membenci Jaka.
Firasatku mulai terbukti waktu
kamu terlihat sering ngobrol dengan Jaka. Terlihat diskusi kalian sangat serius
dan kalian berdua menikmati itu. Sekali pernah aku mencuri dengar pembicaraan
kalian, aku terkaget-kaget. Kalian membicarakan soal buku!
Ditanganmu aku
melihat buku karangan Aung San Soo Kyi, tokoh kemanusiaan asal Myanmar aku hafal karena buku itu belakangan sering berada di tasmu), sebuah buku
tebal bersampul biru tua juga ada dipangkuan Jaka. Kalian sibuk membuka halaman-halaman
dari buku-buku itu, sesekali wajahmu tegang, serius, lalu tersenyum sedikit
atau tertawa terpingkal-pingkal.
Bisa kaubayangkan perasaanku,
Arsya. Campur aduk. Aku sendiri sampai
malu merasakan cemburu yang demikian hebat dihatiku. Jaka benar-benar bisa
mengimbangi kekritisanmu dalam berpikir. Berdiskusi denganku soal buku sama
saja berdiskusi dengan tembok yang hanya bisa mendengar tanpa bisa memberi
feedback yang bagus. Waktu itu aku langsung pergi dari cafetaria dan duduk di
masjid, biasanya begitu adzan ashar kamu pasti pergi kesana.
Kamu datang (untungnya)
sendirian tanpa si manusia perfect itu. Kamu melambaikan tangan dan pastinya
kamu melihat menyadari wajahku yang merengut karena kamu langsung melontarkan
pertanyaan yang saat itu terdengar sangat bodoh bagiku,”Ruben elu kenapa ko
cemberut gitu sih? Jelek tau ga?”
Yah nona manis, sehabis melihat
wajah Jaka selama nyaris 2 jam penuh ditambah kemampuannya menjadi teman bicara
yang menyenangkan, tentu saja siapapun akan terlihat jelek. Kurasa bahkan kalau
aku sedang tersenyum manis dengan mengenakan stelan jaspun, aku masih akan
tetap terlihat jelek bagimu. “Ngapain sih lama amat di cafetarianya?” , aku
langsung menyesal mengatakan hal itu dan hampir yakin kamu akan segera angkat
kaki dari sana mendengar
keketusanku, kamu pasti marah.
Sejenak senyummu menghilang
untuk kemudian muncul lagi, kelihatannya kamu mencoba memahami perasaanku.
“Udah ah, shalat aja yuk?”
Seperti itu lah kamu, Sya,
kadang-kadang aku salah duga padamu. Itu yang menjadikan berteman denganmu
tidak pernah membosankan. Seringkali kamu melakukan hal-hal yang diluar dugaan.
Andai saja dugaanku tentang
hubunganmu dengan Jaka juga salah. Hubungan kalian yang awalnya tidak terlalu
mencolok semakin menjadi bahan pembicaraan yang hangat di sekolah. Gosip-gosip berkembang hebat dan aku melihat cowok-cowok
yang pernah terlibat perasaan denganmu mulai meneliti dengan caranya
masing-masing. Seandainya aku tidak mencintaimu juga, aku sudah akan
mentertawakan mereka semua.
Tapi kalian berdua maju terus,
dan caramu memperlakukan Jaka membuat orang-orang seperti aku mengutuk Jaka
habis-habisan, seperti juga yang terjadi dengan kaum hawa yang mengutukmu
karena Jaka sedemikian memperhatikanmu.
Amarah yang tidak terkendali
mulai berkobar mewarnai hari-hariku dengan warna-warna mencolok, mencerminkan
kekesalan yang luar biasa. Aku mulai menjauhimu, ditengah keputusasaanku karena
tidak bisa mngenyahkanmu dari pikiranku, aku memutuskan bahwa cara yang paling
efektif untuk melupakanmu adalah dengan berhenti bicara denganmu, berhenti
mengirim sms untukmu, berhenti menelfonmu, bahkan berhenti berada di lingkungan
yang sama denganmu!
Dan Arsya, kamu sama sekali
tidak membantuku dengan beberapa kali menyapaku, mencariku, menelfonku dan
bertanya, “ Elu kenapa sih, Ruben?”
Polos sekali kamu menceritakan
Jaka yang sudah menjadi pacarmu…Astaga Arsya, dua tahun lamanya kamu selalu
menolak cowok-cowok yang mendekatimu lebih dari sebulan, sedangkan Jaka yang
baru dua minggu berada didekatmu langsung mendapatkan anggukan darimu?
What’s so special about him?
“Dia orang yang bertanggung
jawab pada dirinya dan pada lingkungannya. Dia orang yang peduli lebih banyak
untuk orang lain daripada dirinya sendiri. Dia orang yang ga money oriented.
Dia orang yang demokratis, jujur dan tahu cara menghargai semua hal. Dan dia
menghargai gua banget.”
Wah, matilah aku, sempurna
sekali orang itu dimatamu!
Aku mengenalmu, Arsya. Dia
betul-betul cowok yang sudah lama kamu impikan. Walaupun dari obrolan-obrolan
kita dahulu aku punya kesan kamu cenderung tidak menganggap cowok seperti itu
benar-benar ada di kehidupan nyata.
Well, dia ada, Arsya. Dan dia
jatuh cinta padamu.
Hanya saja, anehkah kalau aku
merasa ‘kalah’ dan tidak ingin lagi berdekatan denganmu yang mencintai orang
lain? Anehkah kalau aku ingin melupakanmu setelah tak kutemui lagi sedikitpun
harapan untukmu membalas perasaanku. Anehkah bila aku ingin mengalihkan
perhatianku yang selama ini 99,9% hanya kepadamu?
Menurutku tidak, Arsya. Ini
semua hanya karena aku mencintaimu.
Terlalu dalam.
Jadi jangan bertanya lagi.
Aku yakin kau mengerti.
(bandung, November 2001)
Salah satu hal yang saya yakin sulit dilakukan oleh siapapun adalah untuk mengatur bulu kuduk kita, you know...like: kapan boleh merinding dan kapan jangan merinding. Kalau lagi pake turtle neck merindinglah wahai bulu kuduk, tapi please deh, tahan dong kalau kostum lagi seputar singlet atau bustier... :)
Hal lain yang sulit dilakukan adalah: untuk tidak merinding waktu mendengar kabar salah seorang teman kita hampir mati dibunuh dirinya sendiri suatu malam. Untung orang tuanya tanggap dan membawa cowok (COWOK!) itu ke UGD. Dia nggak jadi jalan-jalan ke alam baka dan sekarang terbaring lemah di rumah sakit dengan berbagai perasaan, mungkin.
I mean, kebayang nggak sih? Bunuh diri tapi gagal. Ada perasaan lega tentunya, karena bohong banget kalo sepersekian detik setelah dia ngeliat tangannya berdarah-darah dia nggak ngerasa takut mati (sok tau lo, kris...). Trus mungkin juga ada perasaan kesal dan umpatan dalam hati, "Ih, gue kok gagal amat jadi manusia, mau bunuh diri aja gagal...Norak deh.". Dan terakhir mungkin juga ada perasaan malu yang lumayan ganggu waktu di benaknya terlintas kalimat, "Gile, adegan gue kok AADC banget ya..."
Perasaan saya sendiri sebagai seorang teman? Cuma satu: Miris. tau kan miris? Miris itu perih nggak jelas jauh didalam hati. Merinding nggak penting dengan mata menyipit dan tangan mengelus dada sambil menghela nafas panjang dan bibir berbisik : "Masya Allah..", atau, "Ya ampyun...", atau "Gila!", atau "Gusti...", atau khusus buat para manusia berbahasa trendy "Oh My Gooood...."
Begitulah kira-kira...
Gimana nggak miris? Lha wong ternyata teman saya itu mengiris pergelangan tangannya gara-gara putus cinta!
Aiiih...Mana tahaaaan.
Saya memilih reaksi pertama, "Masya Allah." Diikuti dengan kalimat lain dalam hati saja, "Rugi amat...". "Masya Allah" karena waktu saya mendengar cerita itu posisi saya benar-benar hanya cocok untuk 'masya Allah'...Saya sedang berdiri di depan ranjang teman saya itu yang sudah cukup sadar untuk sakit hati kalau saya berkata "Gila!", dan disamping saya berdiri sang Ibu yang sangat terpukul dan mungkin akan menatap dengan tatapan mencemooh kalau saya memilih reaksi "Ya ampyuuun..."
Dengan alasan yang kurang lebih sama jugalah saya hanya berkata "Rugi amat" dalam hati. Teman saya itu sudah kehilangan cukup banyak darah, nggak usahlah dia tambah kehilangan harga diri, tar repot.
Kenapa kalimat "Rugi amat" itu yang terlintas di benak saya meski tak terucap?
Entahlah. Mungkin karena secara otomatis saya punya bayangan apa yang sedang dilakukan mantan pacar teman saya itu waktu si teman sedang mengambil cutter buat mengakhiri kepedihan hatinya (ampun dah bahasanya!)? Apakah si cewek itu sedang tidur di kamarnya (usaha bunuh diri diperkirakan berlangsung sekitar pukul 11 malam)? Atau apakah si cewek itu sedang ber sms ria dengan cowok lain? Lalu waktu teman saya akhirnya tersungkur dengan bersimbah darah dan air mata, si ceweknya lagi apa? Chatting sama cowok-cowok kurang kerjaan yang menghabiskan waktu berjam-jam tebar pesona di dunia virtual? Atau jangan-jangan tu cewek malah lagi bersimbah keringat di suatu club malam kota Bandung mengingat dia adalah salah satu dugemers sejati dengan stamina tinggi?
nah, ngerti kan? Gimana nggak rugi. Sementara temen saya itu hampir nyia-nyia in hidupnya dengan usaha bunuh diri dan bikin orang tuanya yang sudah mati-matian bekerja dan berdoa siang malam buat dia setengah shock dan setengah mati sedih...Mungkin aja disisi lain dari kota ini cewek itu malah nggak kehilangan apapun, malah bisa jadi cewek itu justru mendapatkan banyak hal seperti list kecengan, beberapa shot tequila, dan sedikit ciuman-ciuman panas...Yuck.
Rugi amat!
Well, bukannya nggak mungkin cewek itu juga bersedih karena putus sama cowok yang by the way, agak-agak lemah ya...Tapi kalaupun cewek itu bersedih, tetep aja cowok itu coba bunuh diri untuk sesuatu yang nggak jelas. Emang dia berharap apa sih? Berharap kesedihannya akan berakhir? Emang dia pikir dia bakal ngerasa bahagia apa waktu dia ketemu Tuhan dan Tuhan nanya, "Kamu ada disini karena bunuh diri? Karena putus sama cewek? Oh, Man...Saya mutusin hubungan kalian karena ada cewek yang lebih oke udah saya siapin buat kamu!!!".
Belum lagi kalau dari alam sana yang di film-film digambarkan punya jendela buat ngeliat kehidupan di bumi, dia ngeliat orang tuanya yang lagi nangis sesegukan. Sang ibu mungkin pingsan dan nggak mau makan berhari-hari sedangkan sang ayah akan melamun terus-menerus merindukan anaknya. Mereka berdua akan mengenang hari dimana dulu mereka begitu bahagia menyambut kelahiran si teman saya itu. Mereka akan teringat setiap keringat yang diteteskan buat jagoan mereka. Mereka akan teringat setiap do'a yang mereka panjatkan buat dia..Trus mereka akan merasa gagal sebagai orang tua. Padahal yang gagal bukan mereka.
Anaknya lah yang sudah gagal jadi anak yang tau diri.
Apa temen saya itu bakal bahagia kalau nanti sesudah matipun dia akan mendapati itu semua, tau bahwa kematiannya karena sakit hati gara-gara cewek itu sudah bikin orang tuanya jauh lebih sakit hati dari dia. Itu kan berarti dia sama aja sama cewek yang udah bikin dia nyoba bunuh diri itu?
How selfish. Betapa egoisnya.
Saya pernah sakit hati, semua orang pernah sakit hati. Tapi bukankah itu emang resiko yang sudah kita ambil waktu kita memutuskan untuk berani jatuh cinta? Bukankah hidup itu nggak sedangkal itu? Bukankah cinta itu nggak dikirim Dia lewat satu orang saja tapi banyak orang disekeliling kita? Bukankah kita dikasih sesuatu seberharga kehidupan ini untuk misi yang jauh lebih besar dibandingkan hanya satu orang saja?
Muriel Maufroy di bukunya (kimya sang puteri Rumi) menulis:
Seseorang yang selalu menoleh ke masa lalu, atau terlalu mengkhawatirkan hari esok, sehingga ia melupakan hari ini, adalah seseorang yang tidak pantas mendapatkan sesuatu seberharga kehidupan.
Bunuh diri atau hal-hal negatif lainnya yang menyebabkan rasa sakit dan air mata, hanya suatu keegoisan berpadu kelemahan yang berpura-pura jadi 'cinta'. Sedangkan menurut saya, rasa cinta, sayang, atau apapun sejenisnya yang kita miliki buat orang lain selamanya ditakdirkan membuat siapapun menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat dan lebih bjaksana, seperti apapun akhirnya...
"What's your type?"
Pertanyaan ini tanpa disangka-sangka bikin saya bingung sesorean kemarin waktu terdampar di salah satu tempat ngopi favorit yang terletak dalam sebuah galeri seni. Padahal kan itu pertanyaan standar yang bisa aja saya jawab dengan jawaban standar juga...
Jawaban standar cewek jujur: "Oh yang ganteng dong, wangi, romantis, baik, perhatian, tajir, pokoknya yang kaya Richard Gere di film Shall we dance deh..." (aduh ceu, meni jujur pisan..)
Jawaban standar cewek jaim, biasanya jd andalan para artis di infotaiment: "Aduh buat gue sih tampang dan penampilan nggak penting, yang penting hatinya." (Hati gimana maksud lo? Hati sapi apa hati ayam?)
Jawaban standar cewek yang sebetulnya cowok: "Kekar dan ganteng dong, bo...yang macho gitu deh, jadi kan kuat..." (Whuahahaha!!)
Tapi jawaban macam apa itu waktu yang ditanya malah nanya balik, "Apa ya?"
Teman saya langsung melotot, "Haaaa? Pacaran sebelas kali tapi lo nggak tau tipe lo kaya apa????"
Tolong guys, jangan fokus ke kata 'sebelas' nya, fokuslah ke 'nggak tau tipe lo kaya apa', plis...
Nggak bisa? Oke...Need an explanation? Oke...
Sebelas mantan pacar karena saya agak kecentilan sejak smp, jadi it's including cinta monyet lhow. Enam kali putus karena perempuan lain menunjukan bukti bahwa teori teman saya yang bilang bahwa 'sabar dan bodoh itu perbedaannya setipis kertas' adalah benar adanya pada kasus saya, sekali putus karena masalah beda agama (padahal dia baiiiiiikkkkk banget!!), tiga kali putus karena masalah nggak bisa berhenti berantem yang menyangkut pautkan banyak sekali 'band mulu diurusin!' atau 'kamu kok siaran terus sih? Kapan ketemu aku nya?' atau 'Kamu pasti ada apa-apa ya sama partner siaran kamu??' atau 'Kenapa sih kamu banyak banget temen cowoknya??' dan yang paling najis : 'aku aneh deh kenapa cewek se modern kamu kok masih nganggep sex adalah hal yang cuma boleh dilakuin kalo udah nikah?'
Hoeeekkkhhh...(muntah dulu, saya selalu eneg kalo ngomongin topik terakhir itu, cowok ganteng keparat yang sayang nya pernah jadi pacar saya itu selalu sukses bikin saya mual-mual kalo inget pembicaraan terakhir yang bikin saya langsung mutusin dia saat itu juga)
Yang kesebelas masih jalan sampe sekarang.
See, jadi bukan saya yang salah dong punya track record sebelas kali pacaran, namanya juga sering jadi victim...Atau sebenernya saya yang salah karena sering tertarik pada cowok yang salah ya..? Hihihi...
Bodo ah, back to the topic. Kalo saya telusuri lagi mantan-mantan saya itu apa ya kesamaannya? Prilakunya, nggak ada yang sama, kecuali bahwa mereka semua tidak punya cukup banyak kecocokan dengan saya sampe harus putus...Fisiknya apalagi! Kulit putih ada, gelap ada, ganteng banget ada, tampang biasa aja juga ada, kurus ada, chubby ada, pinter banget ada, otak biasa aja (kalo nggak mau dibilang lemot) juga ada, suka baca ada, nggak suka baca juga ada...Waduh...bingung. Romantis? Yah, ada yang romatis banget, ada juga yang standar.
Tapi saya jadi berdebat sama temen saya waktu itu, emang penting amat gitu ya nentuin tipe kita seperti apa? Emangnya salah ya kalo nggak punya standar dengan cowok seperti apa kita ingin terlibat...
Menurut teman saya, dengan punya standar tipe, kita bisa meminimalkan resiko gagal total dalam berpacaran...
Anehnya setelah topik ini saya angkat ke teman-temen saya yang lain, lebih banyak yang punya kebengongan seperti saya daripada punya jawaban pasti tentang tipe cowoknya.
Yah...abis gimana dong, cewek jaman sekarang hidupnya udah jauh lebih complicated, banyak hal lain yang diurusin, nggak ada waktu buat mikirin gituan lah...Trial and error rasanya udah cara yang lumayanlah ya, dan lagipula kita kan punya insting sebagai guide yang percayalah, cukup oke kok.
No offense tapi lho...buat yang udah punya jawaban sih justru good for you! Sementara saya pribadi sejauh ini baru menemukan similaritas cowok yang pernah terlibat dengan saya adalah: jago gombal, suka makan sushi dan good kisser!!!
=)) (tertawa histeris terbahak-bahak)
Mending
mana :
- Pacaran lamaaaa…trus bosen.
atau
- Temenan lama, saling kenal
sedalem-dalemnya…jadi pas nikah enak?
Ya mending yang kedua sih…
Nah..
(ketawa)
Ko ketawa
sih? Lo ngerti maksud gw kan?
Menurut lo gw ngerti ga. Lo kan kenal gw, kira-kira gw ngerti
ga…?Katanya kita mirip?
Kata gw
sih lo harusnya ngerti..
(ketawa lagi)
Tuh kan, lo ngerti ya?
Yaa…ngerti sih..
…Tapi
kita ga usah terlalu banyak ngomong kan?
Yeah, words mean nothing.
Heheehehe…
Itukah yang bernama janji? Tanpa kata janji…tapi seperti
menjanjikan. Dan kali ini kusadar semakin hari kutak kuasa tolak rasa aman yang
datang setiap mendengar tawamu. Keyakinan yang sekian lama ada,. tak mungkin
hilang …Walau ragupun mulai membayang. Akankah bahagia bila bersama, atau lebih
bahagia bila jauh? Namun kehadiranmu bawa rasa tenang…dan ketidak hadiranmu
timbulkan rindu..dan berbicara denganmu, buatku memahami arti kehangatan kasih
sayang yang sebenarnya…Salah kah?
Erwin aku selalu mencintaimu.
Jangan
tanya kenapa…Karena dari semua hal yang terjadi di hidupku, hanya kamulah yang
tak kutahu alasannya.
Itu yang membuatmu sangat istimewa.
Erwin
masih kuingat tubuhmu yang dulu tak jauh berbeda dariku, langkah-langkah kecil
kita berlarian menyusuri rumput basah halaman rumahku, keringat dan tanah yang
membalut tubuhku dan kamu, setiap hari yang, denganmu, tak pernah sama, selalu
baru.
Erwin
betapa waktu berlalu tanpa ragu.
Tiba-tiba saja aku hanya bisa menatap dada bidang
jika berdiri berhadapan denganmu, langkah-langkah kita masih cepat, tapi kini
menyusuri lantai salah dua dari gedung-gedung perkantoran tinggi ibu kota dan tak lagi
menyusurinya bersama.
Erwin
hari-hari kini berlalu begitu saja, karena kamu tak lagi ada.
Erwin aku selalu
mencintaimu, dan aku tahu kamupun mencintaiku.
Meski tak pernah kaubiarkan
kata-kata itu mampir di telingaku, meski tak pernah kaubiarkan kata-kata itu
terucap mewujudkan mimpiku. Akupun tetap menanti dan menanti, membiarkan hari
berganti, tapi kamu tetap pujaan hati. Tak ingin kuberputus asa, padamu aku
percaya. Suatu hari pasti kita akan bersama.
Erwin tidakkah kau cemburu
pada mereka? Laki-laki lain yang kubiarkan menggandeng tanganku, memeluk
tubuhku, mencium rambutku, dan melumat bibirku?
Sementara Erwin dari ujung
kepala sampai ujung kakiku, sesungguhnya hanya menginginkan kamu.
Mereka selalu
datang dan berlalu. Mereka selalu berkata, ada yang salah.
Entah apa.
Erwin aku tahu apa yang
salah. Dapat mereka gapai setiap inci tubuhku, tapi tak setitikpun hatiku.
Hatiku hanya bisa memanggil namamu. Hatiku hanya bisa membiarkan kamu. Hatiku
hanya bisa jujur mengasihimu.
Erwin tidakkah kau lelah?
Karena akhirnya ku nyaris menyerah.
Aku kalah dan mulai berpasrah.
Cerita
tentang aku dan kamu hanya sebuah mimpi indah.
Kau ada, tapi yakinkanku kau tak
pernah.
Batinku berbisik lemah...”Sudahlah”
Erwin aku selalu
mencintaimu, dan aku tau kamupun mencintaiku.
Jadi bolehkah kubertanya, ”Kenapa?”.
Kenapa kau biarkanku menikah dengan dia? Katamu kau hanya ingin aku bahagia,
padahal kalau saja kau tau aku nyaris gila, menyadari bahwa itu hanya kan
terjadi bila kita bersama.
Erwin aku tidak mempunyai
mimpi menjadi bidadari. Atau suatu hari bisa menggapai mentari. Aku hanya punya
mimpi sederhana, tuk bisa memeluk yang kucinta.
Terlalu banyakkah kumeminta?
Bukan dunia, bukan permata...Hanya kamu, cinta.
Erwin lelaki yang katamu
akan membuatku bahagia ternyata sakit jiwa. Dia selalu tidur larut malam
menonton sepak bola. Dia menganggapku sama seperti bola, bisa ditendang kapan
saja. Bisa diinjak semaunya. Tapi nasibku lebih baik dari bola, yang
menendangku hanya dia. Bukan sebelas, hanya satu. Tapi sakitnya membekas, memar
membiru.
Erwin aku sering bertanya,
”Tuhan, Erwin dimana?”. Lalu aku teringat satu nasihatmu dulu, ”There must be a
silver lining on a very dark cloud.” . Benarlah katamu itu Erwin, aku mengerti
yang kau maksud. Walaupun sakit
sekujur tubuhku, habisnya kesadaranku bisa membuatku kita bertemu.
Terkadang aku enggan
tersadar.
Tak mau kembali ke duniaku yang hambar. Ingin terus
bermimpi...menari...menyanyi...
Aku benci harus berhenti
pingsan dan ucapkan selamat tinggal.
Benci rasakan kehilangan, benci lagi-lagi
merasa gagal.
Tidakkah bisa kutetap bermimpi, bersamamu terus dan berhenti
mencari?
Tapi selalu aku terbangun
dari tidur panjang, dan saat itulah kau menghilang. Membuatku menanti-nanti,
suamiku kumat dan mengirimku kesana lagi.
Satu lagi nasehatmu,
”Teruslah berdo’a, Kim, dan suatu waktu Tuhan kan mendengarmu.”
Tak pernah berhenti
kuberdo’a agar kubisa berhenti tersiksa.
Sampai akhirnya!!
Sudah tujuh hari kau
disini. Aku mulai percaya keajaiban bisa terjadi. Kali ini kamu tak akan pergi
lagi...
Ya kan?
Erwin aku selalu
mencintaimu.
”Kim...bangun,
Kim...Maafin aku.”
”Kim, kamu nggak boleh
pergi dulu Kim, nggak sekarang....Nggak gini!”
”Kim, ini aku...Ini
Erwin...”
”Kim kalau kamu
sampai...Kalau kamu sampai...gara-gara dia, sumpah aku akan...”
”Siapa aku menghujat dia,
sementara bertahun ini akupun melakukan hal yang sama. Dia menyakiti tubuhmu,
aku menyakiti hatimu. Aku dan dia sama kan, Kim?”
”Hanya saja aku yakin aku
jauh lebih mencintaimu.”
”There...Akhirnya bisa
kuucapkan itu. Aku. Sangat. Mencintaimu. Kim.”
”Entah kenapa harus
kutunggu 20 tahun lamanya tuk bisa mengakui semua...Entah kenapa berjuta
kesempatan bicara terbuang sia-sia...Entah kenapa harus kutunggu kamu tak
berdaya sampai baru bisa kuucapkan cinta.”
”Kim...”
”Kim aku mencintaimu.”
Erwin aku selalu
mencintaimu.
Bahkan di tidur panjangku.
”Kiiiiiiiiiiiiiiiiiiiimmmmmmmmmmmmmmm.............!”
Malam ini aku membaca sesuatu tentang tiga anak babi dan
seekor serigala.
Lalu aku merindu...
Merindukan masa-masa itu...
Don’t sweat small
stuff in—sampai the look of—love.
Cappucino standar dari circle K, bayam goreng
Cibadak, chocolate cookies di Daily bread…
All about cheesecake and chocolate
truffle..
All about sushi and Besame Mucho…
They just remind me of you.
Bersama-sama
jatuh cinta pada gerimis, Paris
juga tergantung pada Diana Krall live in
Malam ini sepi. Bukan
kuinginkan kamu disini. Tapi ku rasa kau memang berarti.
This is me then, in A minor. Comment ca va, monsieur?
Tahun 2005 hampir berlalu dan seperti biasa, sesuatu yang tidak bisa dihindari sepanjang bulan Desember adalah mengingat-ngingat lagi tahun-tahun yang lalu. Kegagalan-kegagalan, keberhasilan-keberhasilan, kisah-kisah patah hati, kisah-kisah jatuh cinta.
Dan sampailah saya ke tengah tahun 2002, waktu saya tergila-gila pada sebuah serial Taiwan yang membuat saya rela menabung berminggu-minggu supaya bisa membeli satu set VCD nya (perhatian: V C D!!). Cerita tentang seorang gadis manis, pemarah, pintar, mandiri, lucu, dan loveable bernama Sanchai. Tentu saja daya tarik serial itu, buat saya, bukan hanya pada Sanchai, tapi pada empat tokoh pendamping Sanchai yang sangat menggoda iman: Dao Ming Si, Hua Ze Lei, Xi Men, dan Mei Zuo.
Sementara perempuan lain tergila-gila pada Dao Ming Si, yang pada awal permusuhannya dengan San Chai dipanggil 'Kepala Nanas', saya malah menghabiskan berjam-jam waktu saya untuk melamunkan Hua Ze Lei. Untungnya saya bukan tipe perempuan yang memajang poster pujaannya besar-besar di tembok kamar, tapi bahkan dengan ketidaksukaanku memamerkan kegilaanku akan seseorang, foto 3 x 4 Hua Ze Lei nongkrong dengan manis di atas meja kerja saya dalam frame biru yang cantik.
Adegan pertemuan pertama mereka berlima terjadi suatu pagi di kampus Ying De. F4, nama geng keempat cowok itu berjalan melintas di depan San Chai dengan sejuta gaya dan seakan belum cukup mengesalkan, semua itu masih ditambah dengan menendang jatuh sebuah tong yang menghalangi jalan mereka. San Chai yang jatuh tersandung tong itu menatap penuh kemarahan sampai salah satu dari mereka mendekati San Chai dan menolongnya berdiri.
Hua Ze Lei.
San Chai jatuh cinta pada pandangan pertama dan sejak hari itu memendam perasaannya pada Hua Ze Lei. Pada akhirnya setelah melewati perjalanan 32 VCD, San Chai malah cinta mati sama si Kepala Nanas.
Walau begitu buat saya adegan Sanchai-Hua Ze Lei itulah yang paling terekam dnegan baik di ingatan. Entah apa yang lebih menarik dari kisah mereka dibandingkan San Chai-Dao Ming Si...Dengan Dao Ming Si, penonton melihat kejadian-kejadian yang memang dengan wajar bisa menimbulkan cinta diantara mereka berdua. Tapi dengan Hua Ze Lei? Apa yang membuat San Chai bisa 'segitunya' sama Hua Ze Lei? Karena Hua Ze Lei menolong dia? Berterimakasihlah kepada orang yang menolongmu, tapi San Chai malah memberi kasih.
Dan apa pula yang mendorong Hua Ze Lei menolong San Chai? Kebaikan hatinyakah? Well, owkay...Kebaikan hati bisa diterima, tapi what's up with that look in his eyes? Walaupun Hua Ze Lei pura-pura lupa pada San Chai, tapi terlihat jelas kalau dia minimal tertarik pada San Chai.
Love at the first sight, sebuah cerita yang akan laku dijual dibelahan dunia manapun. Meteor Garden, Romeo and Juliet, Carrie Bradshaw dan Jack Berger di salah satu episode Sex and The City...
Love at the first sight, sesuatu yang indah dan cepat. Terjadi dalam sekejap saja, memporak porandakan dunia. Turn your upside down or some says: Head over hills...And some other says: It will only kill.
"Cinta nggak mungkin terjadi dalam sekejap. Apapun yang dirasakan pada pandangan pertama itu cuma daya tarik fisik aja."
Itu adalah salah satu testimonial soal cinta pada pandangan pertama yang saya dapat semalam waktu mengangkat topik ini di program Love Sucks saya.
Selama dua jam saya terus menerima dua pendapat yang bertentangan. Orang-orang yang tidak setuju akan adanya love at The first sight meng claim diri mereka sebagai orang-orang yang sinis. Sementara orang-orang yang percaya pada love at the first sight menobatkan diri mereka sebagai orang-orang yang romantis.
Really? Waktu kita nggak percaya pada love at the first sight, apakah itu berarti kita adalah orang yang sinis dan nggak romantis?
Carrie Bradshaw dan Jack Berger akhirnya putus karena Berger nggak bisa menerima kenyataan bahwa Carrie adalah penulis yang sedang lebih digemari daripada dia, sindrom 'man should always be on top' menghancurkan hubungan mereka suatu pagi. Waktu itu Jack memutuskan hubungan lewat 'Sorry I can't, don't be mad at me' di selembar post it yang ditempel di screen laptop Carrie, dan Carrie bereaksi dengan melempar ke dinding satu vas bunga berwarna merah yang didapatnya dari Jack.
Romeo dan Juliet akhirnya bunuh diri karena putus asa tidak berhasil menemukan jalan untuk bisa bersama. Keadaan keluarga mereka yang bermusuhan membuat mereka merasa tersudut dan akhirnya memutuskan untuk melanjutkan kisah cinta mereka di tempat lain, dimana keluarga mereka tidak bisa mengganggu lagi.
Love at the first sight story from San Chai and Hua Ze Lei punya ending yang paling lumayan. San Chai yang akhirnya bahagia ever after bersama Dao Ming Si tetap bersahabat dengan Hua Ze Lei sampai cerita habis.
Tidak bisa dipungkiri sebetulnya justru film-film yang memunculkan ide tentang love at the first sight itu sendiri yang membuat sebagian dari kita memandang sinis. Prinsip primitif tentang 'man should always be on top' dari Jack nggak akan mungkin terdeteksi oleh Carrie pada pandangan pertama...Lalu, siapa yang mau punya akhir tragis seperti Romeo dan Juliet?
Diawal siaran tadi malam saya masih bingung dimana saya sebetulnya. Percaya atau tidak? Romantis atau sinis?
Waktu saya memasuki cut 3 saya mendengar diri saya sendiri berkata, 'Gue nggak percaya love at the first sight.'
Tapi di cut 6 saya berkata lagi, '..Tapi mungkin gue nggak percaya karena belum tau aja rasanya kaya apa."
Dan di cut terakhir saya bercerita, '...setelah diinget-inget, ternyata gue pernah ngalamin love @ the first sight. Sekali. Waktu gue masih kelas dua SMP, gue main roller blade berdua temen gue, temen gue jatuh dan ada seorang cowok ber-skate board nolongin dia. Mirip ceritanya San Chai...Tapi yang ngalamin Love at the first sight sama cowok itu malah gue...Dan begitulah sampai tujuh tahun sesduahnya gue tetep mencintai cowok itu."
Yang sebenarnya adalah selama tujuh tahun itu saya sering bertanya-tanya sendiri apa dalam diri cowok itu yang membuat dia 'segitunya' buat saya. Dan saya selalu gagal menemukan jawabannya. Bukan sifatnya yang jelas, karena dia termasuk cowok penggombal yang saya tau obral pesona dimana-mana. Bukan juga style atau wajahnya, karena walaupun ganteng, saya nggak terlalu tertarik pada tipe anak band. Lalu apa yang membuat saya selama tujuh tahun pacaran dengan siapapun selalu membandingkan pacar-pacar saya dengan dia, the love at the first sight men?
Entahlah. Satu-satunya alasan yang ada adalah tatapan pertama dulu itu yang setiap detailnya baru bisa saya enyahkan dari benak saya beberapa tahun belakangan ini setelah melewati pemaksaan yang keras dan kejam yang saya lakukan terhadap diri saya sendiri.
Lucu aja. Walaupun sepanjang siaran saya keukeuh bahwa saya bukan orang yang percaya love at the first sight, di akhir siaran ternyata saya punya satu kenangan tentang hal itu yang masih bisa saya ceritakan dengan baik.
Well, saya rasa itu menjadikan saya tipe sinis, sekaligus romantis. Hai, saya adalah sinis romantis...nice to meet you.. :)
Mungkin memang ada dua tipe orang bersangkutan dengan mempercayai love at the first sight: Sinis-Romantis dan Romantis-Sinis, tergantung mana yang lebih kuat. Tapi yang manapun itu, romantis dan sinis saling melengkapi. Mungkin bukan seperti Romeo and Juliet, but more like roller blade and skate board.
Q : Gue nggak mau lagi angkat telefon dari dia!
D : Kenapa?
Q : Karena gue mau lupain dia, gue nggak mau lagi nginget-nginget dia baik lewat telfon, sms, atau ketemu, bahkan kalau bisa gue nggak mau denger namanya, gue mau buka lembaran baru!
Jangan tanya kenapa saya meminjam Q dan D yang ekonomi banget buat menamai tokoh-tokoh pembantu ilustrasi diatas, saya cuma iseng. Mungkin karena saya baru saja memelototi diktat-diktat ekonomi yang, jujur, nggak sedikitpun saya mengerti. Bukti ketidak mengertian saya adalah saat ini, setelah muak dengan diktat-diktat keparat (rhyme yang bagus kan?) itu, saya malah menulis sesuatu yang nggak ada hubungannya sama sekali dengan ekonomi...
Banyak sekali orang yang pernah menggunakan istilah 'membuka lembaran baru', termasuk seorang pendengar siaran saya yang tadi malam mengirim sms sepanjang 5 space sms untuk menceritakan kepatah hatiannya dan betapa dia mencap apapun yang berhubungan dengan mantannya dengan cap: NAJIS dan HARAM. Cap yang tebal, besar dan berwarna merah darah. Menyeramkan.
Kadang saya suka kaget sendiri mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari mulut saya setiap kali siaran. Bukannya apa-apa, seringkali saya membatin, "Kenapa gue nggak pernah mikir gini ya kalo buat mecahin masalah gue sendiri?"...Jangan-jangan saya kersukan setiap kali saya siaran, jadi sebetulnya kalimat-kalimat itu bukan dari saya...
Stop! Mulai ngaco nih, amit-amit.
Well, penjelasan sok tahu dari seorang teman yang lebih senior dari saya dalam hal bersiaran: "Lo bukan kerasukan, cuma aja kalo lo lagi mecahin masalah orang lain, kan berarti lo lagi di titik nol, netral, objektif dan yang jelas, tenang. Jadi kemampuan lo berpikir maksimal, tingkat kedewasaan lo juga maksimal, dan itulah yang bikin lo juga bisa ngerahin kemampuan bacot lo dengan maksimal."
Alhamdulillah, berarti saya nggak kerasukan dong...
Anyway, bacotan maksimal saya tadi malam menanggapi sms panjang itu adalah...
"Emang ngejalanin hidup tu kaya menulis sebuah buku...Dan adalah bagus kalo suatu saat kamu ngerasa udah saat nya kamu pindah ke halaman baru yang lebih bersih dan memulai lagi nulisin buku kehidupan kamu dengan bentuk tulisan dan kata-kata yang jauh lebih indah drai halaman sebelumnya...After all, emang itulah esensi melakukan apapun kan, selalu lah berjalan maju, selalu lah melakukan sesuatu lebih baik dari sebelumnya. Nah, tapiii...
Jangan sampai lupa, kalau kita ngomongin komputer, komputer nggak langsung pake pentium 4 seperti yang kita kenal sekarang kan? Ada pentium 1 dulu, baru pentium 2, trus pentium 3...dan akhirnya pentium 4. Bulan depan, atau mungkin tahun-tahun depan, mungkin, semoga, masih akan ada lagi pentium-pentium berikutnya, 5, 6, 7...yang semakin bagus dan semakin canggih.
Sebelum ada windows XP, ada windows 98, windows 2000...Dan mungkin nanti akan ada windows lainnya yang main bagus dan makin canggih.
Gitu juga dengan buku kehidupan kamu. Tulisan dan kata-kata kamu yang terkini adalah hasil kamu latihan dengan menulisi lembaran-lembaran sebelumnya dengan tulisan ceker ayam dan bahasa yang jauh dari indah...Tapi biar gimanapun kalau kamu nggak pernah menulisi lembaran itu, lembaran baru yang kamu tulisin sekarang nggak akan sebagus ini. Jadi jelas dong, sejelek-jeleknya tulisan kamu di halaman pertama, kedua dan seterusnya, di lembaran-lembarab itulah kamu belajar, sampai akhirnya tulisan kamu jadi berbentuk bagus dan bahasa kamu jadi terangkai indah. Sesakit-sakitnya masa lalu kamu, semua kejadian itulah yang udah membentuk kamu menjadi siapa kamu sekarang, dan proses pembelajaran kamu itu sangat-sangat mahal, karena nggak peduli seberapa kayapun kamu, semua itu nggak akan bisa kamu beli, dimanapun...
Jadi mulailah menulis di lembaran baru hidup kamu, tapi lembaran yang lain jangan dibuang, karena incase suatu hari lembaran yang lagi kamu tulisin ini gone bad, rusak, atau nggak sesuai yang kamu harapkan, kamu selalu bisa ngebuka lagi halaman pertama dulu, dan melihat sendiri bukti bahwa walau kamu berkali-kali gagal, tapi berkali-kali juga kamu berhasil membuka lembaran baru. Kamu bakal ngeliat sendiri buktinya kalau kamu adalah orang yang kuat, dan kamu akan sadar bahwa segagal apapun kamu di lembaran ini, kamu masih punya lembaran-lembaran bersih lain didepan kamu."
...Sekarang saya sedang mengisi satu lembar di buku kehidupan saya sendiri, satu lembar yang saya yakin akan berguna sekali kalau suatu saat kepesimisan saya dalam menghadapi hidup kumat. Saya akan membaca lembaran ini dan berpikir, "Tuh, lo dulu bacot sama orang lain aja bisa, masa lo nggak bisa sih nerapin bacotan lo ke diri lo sendiri?"
cheers,
-k