Fin
Namanya Fin. Singkat dan sangat mudah diingat. Sangat mudah diingat seperti sepsang matanya. Sepasang mata yang indah diikuti segaris senyum hangat. Senyum hangat yang menggetarkan hati. Hati seorang aku yang sudah lama tidak tersentuh. Tersentuh apappun itu. Apapun yang bernama rasa. Rasa manis, rasa pahit, rasa senang, rasa sedih...rasa c i n t a.
Fin suka hujan. Itulah hal pertama yang kuketahui tentang dia. Suatu sore yang gelap di warung kecil pinggir jalan dipatiukur. Atap warung yang pendek hanya berhasil menjagaku dari pinggang keatas dari ganasnya deras yang mengguyur Bandung selama...
"Dua jam! Dua jam gue disini dan hujannya nggak ada tanda-tanda mau reda.", makiku kesal. Aku terpaksa berteriak berusaha mengalahkan suara hujan, berbicara di handphone dengan Nana, teman kostku yang mencoba menghiburku sebisanya.
"Sabar lah, hujannya pasti reda. Nggak ada hujan yang nggak reda.", puitisnya yang lebih tepat disebut 'penyakit' daripada 'bakat' mulai kumat.
"Maksud lo apa sih, nggak nolong."
"Kan nggak ada malam yang nggak berganti pagi...", jawabnya minta ditonjok.
"Awas lo ya gue bakar juga buku-buku puisi lo.", ancamku menutup telefon. Lalu kembali manyun menunggu hujan sambil menggigil kedinginan.
Kurang ajar, saking bosannya aku berdiri disitu, bahkan mobil-mobil yang parkirpun aku sudah hafal. Mau ngecengin orang lewat, mana ada? Hujan deres gini...Disebelahku tadi berdiri seniorku yang galaknya nggak ada dua, cewek, tapi gak cuma sangarnya yang ngalahin preman-preman stanplat dago, badannya juga.
Tadi dia mengeluarkan suara yang menurut dugaanku adalah ekspresi terganggunya karena harus berdiri sebelahan dengan junior annoying yang grumpy, aku. Suara itu sejatinya dimaksudkan berbunyi seperti decakan kesal, tapi karena diproses oleh tenggorokan seseorang berjowa preman sejati, suara yang keluar lebih berupa dengusan, dengusan yang menyeramkan. Cukup menyeramkan untuk membuatku enggan menoleh-noleh lagi.
Tapi disaat kebosanan sudah memuncak seperti ini, memandang preman pemarah akan cukup menghibur...Sebandinglah dengan resikonya. Paling dipelototin, daripada bengong?
Pelan-pelan aku melirik kekiri, siap-siap mendapati seraut wajah garang dengan otot lengan menantang.
Dan ... ternyata preman itu sudah bermetamorfosis. Sekarang yang kulihat malah sosok ramping, kalau nggak mau dibilang ceking, dengan aura ramah yang justru malah membuatku merasa, akulah yang bertampang preman disini sekarang. Diam-diam aku mencari-cari kemana preman yang tadi ada disampingku itu. Nggak ada. Cuma ada aku dan si ceking manis ini berdua berteduh dari hujan.
Aku membayangkan orang-orang yang lewat pasti melihat dua orang, satu cewek-aku-dan satu cowok-dia- dalam kondisi sama mengkhawatirkannya dengan celana jeans biru muda yang basah sebatas paha, tubuh bagian atas menggigil karena hanya berbalut kemeja tipis, dan muka...
Eh, muka sih beda. Aku, ibarat baju yang baru keluar dari mesin pengering, kusut nggak jelas. Disetrika juga nggak akan selesai lima menit, itupun masih harus ditambah semprotan air biar jinak. Sedangkan dia, matanya menatap butiran-butiran air dengan sorot yang bagaikan lampu kabut di mobil papa, tetep terang walaupun harus menembus hujan.
Gagal. Gagal total usahaku menjadi puitis seperti Nana. Puisi macam apa yang menggunakan perumpamaan lampu kabut?
Sekali-sekali aku melirik. Pada lirikan kedua, aku tau akan ada lirikan yang ketiga. Pada lirikan ketiga aku menyadari akan ada lirikan keempat. Pada lirikan keempat..
Dia melirikku juga. Dan tersenyum. Aku merasa ada hangat menjalar di perutku. Magical smile, kataku dalam hati. Aku sering membaca tentang 'magical smile' di novel-novel cinta, di film-film komedi romantis, tapi belum pernah sekalipun percaya there's such a thing.
Sampai lirikanku yang keempat dan senyumnya yang pertama itu.
Setelah membuang muka karena malu, menenangkan debar yang mengencang, aku merencanakan untuk melakukan lirikan kelima dan...
Sebuah truk lewat mencipratkan air kotor keseluruh penjuru, terkhusus ke arah kios kecil tempatku berteduh.
Makian sudah diujung lidah waktu aku menyadari tidak ada cipratan truk keparat itu yang mengenaiku.
Lirikan kelimaku berubah menjadi kata pertamaku, "Thanks.", dia mendorongku lebih jauh kedalam kios dan berdiri menghalangiku dari cipratan truk keparat.
Lalu senyumnya diikuti kalimat pertamanya, "Sama-sama. Gue Fin."
there is such a thing. Adegan romantisku yang pertama setelah sekian tahun.
Namanya Fin, dan di perkenalan kami dia membuatku menyukai hujan.
Namanya Fin, nama yang singkat, tapi membuatku berharap hujan tak berlalu terlalu cepat.
Namanya Fin, nama yang singkat, Fin membuatku percaya 'love at the first sight'.
=

