My Photo
Powered by Friendster Blogs

February 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
          1 2
3 4 5 6 7 8 9
10 11 12 13 14 15 16
17 18 19 20 21 22 23
24 25 26 27 28 29  

Fin

          Namanya Fin. Singkat dan sangat mudah diingat. Sangat mudah diingat seperti sepsang matanya. Sepasang mata yang indah diikuti segaris senyum hangat. Senyum hangat yang menggetarkan hati. Hati seorang aku yang sudah lama tidak tersentuh. Tersentuh apappun itu. Apapun yang bernama rasa. Rasa manis, rasa pahit, rasa senang, rasa sedih...rasa c i n t a.

          Fin suka hujan. Itulah hal pertama yang kuketahui tentang dia. Suatu sore yang gelap di warung kecil pinggir jalan dipatiukur. Atap warung yang pendek hanya berhasil menjagaku dari pinggang keatas dari ganasnya deras yang mengguyur Bandung selama...

           "Dua jam! Dua jam gue disini dan hujannya nggak ada tanda-tanda mau reda.", makiku kesal. Aku terpaksa berteriak berusaha mengalahkan suara hujan, berbicara di handphone dengan Nana, teman kostku yang mencoba menghiburku sebisanya.

            "Sabar lah, hujannya pasti reda. Nggak ada hujan yang nggak reda.", puitisnya yang lebih tepat disebut 'penyakit' daripada 'bakat' mulai kumat.

            "Maksud lo apa sih, nggak nolong."

            "Kan nggak ada malam yang nggak berganti pagi...", jawabnya minta ditonjok.

            "Awas lo ya gue bakar juga buku-buku puisi lo.", ancamku menutup telefon. Lalu kembali manyun menunggu hujan sambil menggigil kedinginan.

            Kurang ajar, saking bosannya aku berdiri disitu, bahkan mobil-mobil yang parkirpun aku sudah hafal. Mau ngecengin orang lewat, mana ada? Hujan deres gini...Disebelahku tadi berdiri seniorku yang galaknya nggak ada dua, cewek, tapi gak cuma sangarnya yang ngalahin preman-preman stanplat dago, badannya juga.

            Tadi dia mengeluarkan suara yang menurut dugaanku adalah ekspresi terganggunya karena harus berdiri sebelahan dengan junior annoying yang grumpy, aku. Suara itu sejatinya dimaksudkan berbunyi seperti decakan kesal, tapi karena diproses oleh tenggorokan seseorang berjowa preman sejati, suara yang keluar lebih berupa dengusan, dengusan yang menyeramkan. Cukup menyeramkan untuk membuatku enggan menoleh-noleh lagi.

            Tapi disaat kebosanan sudah memuncak seperti ini, memandang preman pemarah akan cukup menghibur...Sebandinglah dengan resikonya. Paling dipelototin, daripada bengong?

             Pelan-pelan aku melirik kekiri, siap-siap mendapati seraut wajah garang dengan otot lengan menantang.

             Dan ... ternyata preman itu sudah bermetamorfosis. Sekarang yang kulihat malah sosok ramping, kalau nggak mau dibilang ceking, dengan aura ramah yang justru malah membuatku merasa, akulah yang bertampang preman disini sekarang. Diam-diam aku mencari-cari kemana preman yang tadi ada disampingku itu. Nggak ada. Cuma ada aku dan si ceking manis ini berdua berteduh dari hujan.

             Aku membayangkan orang-orang yang lewat pasti melihat dua orang, satu cewek-aku-dan satu cowok-dia- dalam kondisi sama mengkhawatirkannya dengan celana jeans biru muda yang basah sebatas paha, tubuh bagian atas menggigil karena hanya berbalut kemeja tipis, dan muka...

             Eh, muka sih beda. Aku, ibarat baju yang baru keluar dari mesin pengering, kusut nggak jelas. Disetrika juga nggak akan selesai lima menit, itupun masih harus ditambah semprotan air biar jinak. Sedangkan dia, matanya menatap butiran-butiran air dengan sorot yang bagaikan lampu kabut di mobil papa, tetep terang walaupun harus menembus hujan.

            Gagal. Gagal total usahaku menjadi puitis seperti Nana. Puisi macam apa yang menggunakan perumpamaan lampu kabut?

            Sekali-sekali aku melirik. Pada lirikan kedua, aku tau akan ada lirikan yang ketiga. Pada lirikan ketiga aku menyadari akan ada lirikan keempat. Pada lirikan keempat..

            Dia melirikku juga. Dan tersenyum. Aku merasa ada hangat menjalar di perutku. Magical smile, kataku dalam hati. Aku sering membaca tentang 'magical smile' di novel-novel cinta, di film-film komedi romantis, tapi belum pernah sekalipun percaya there's such a thing.

             Sampai lirikanku yang keempat dan senyumnya yang pertama itu.

             Setelah membuang muka karena malu, menenangkan debar yang mengencang, aku merencanakan untuk melakukan lirikan kelima dan...

              Sebuah truk lewat mencipratkan air kotor keseluruh penjuru, terkhusus ke arah kios kecil tempatku berteduh.

              Makian sudah diujung lidah waktu aku menyadari tidak ada cipratan truk keparat itu yang mengenaiku.

              Lirikan kelimaku berubah menjadi kata pertamaku, "Thanks.", dia mendorongku lebih jauh kedalam kios dan berdiri menghalangiku dari cipratan truk keparat.

               Lalu senyumnya diikuti kalimat pertamanya, "Sama-sama. Gue Fin."

               there is such a thing. Adegan romantisku yang pertama setelah sekian tahun.

                Namanya Fin, dan di perkenalan kami dia membuatku menyukai hujan.

                Namanya Fin, nama yang singkat, tapi membuatku berharap hujan tak berlalu terlalu cepat.

                Namanya Fin, nama yang singkat, Fin membuatku percaya 'love at the first sight'.

              =

...midnight moon...

(sedikit sinar antara gelap pekat di atap rumah kan slalu teringat..)

Habislah sudah kata yang kupunya

takkan bisa kaumengerti semuanya

aku merasa ada tuk bertemu kamu

aku merasa ada tuk merindukanmu

Sungguh membunuhku sadari tak bisa meminta

menginginkanmu setiap hari semakin menyiksa

(kangen...)

separated

abu-abu diatas sana,  seperi kemarin

hati masih sama, masih terasa dingin

Kepergianmu belum lagi satu purnama

Tapi...sepi terasa seperti selamanya

oh yang kupuja, kedatanganmu seperti bintang jatuh

sekejap bersinar, lalu menghilang, jauh

Kunikmati kepergianmu, kuhayati setiap airmataku

Keindahan mu yang  semakin semu

Kian mempesona dalam ketiadaanmu

Inikah yang kau mau...? Kau dan aku tak bersatu...?

Aku bahkan belum memelukmu

Dirimu bahkan belum memelukku...

last day to love

Kadang suka terlalu sombong sampe mikir, "Bilang nggak ya kalo gw punya feeling sama dia?"

Lalu seringnya berlanjut, "Nggak ah, gengsi ..."

Atau, "Nggak ah, gw kan cewek, masa gw duluan sih yang ngomong?"

Atau, "Nggak ah, buat apa juga? Belum tentu dia ngerasain hal yang sama.."

Dan masih ratusan 'nggak ah' lainnya bisa jadi alasan kita nggak jujur tentang perasaan kita.

Well i say, "Why not?"

We're just ordinary people, kata John Legend. We don't know which way to go. Kita nggak tau besok ada apa, apa semua masih sama, dan lebih dari itu, kita nggak tau apa masih akan ada pertemuan berikutnya dengan dia.

That's why we gotta show our feeling 2 d'one we love as if today is our last day together. That's why we never think twice to tell that person that we're glad he came into our life.

That's why i won't regret every single words from me about what i feel inside...Coz we may not see eachother again, and if it happen, at least u know how much sparks u've brought that made my life so beautiful...

merci..

Tentang kata

Obrolan sore yang terus kepikiran sepanjang weekend ini, seorang teman bilang gini...

"Ngeluarin kata-kata indah, adalah hal yang agak complicated buat cewek. Karena mereka harus pake hatiuntuk melakukannya. Sebaliknya buat cowok, it's not a big deal at all, mereka bisa ninggalin hatinya di rumah, sementara kata-kata yang mereka keluarin nggak kalah indahnya,,,"

gimana, setuju?

"dia lagi"

Dimana kamu?

Sudah dua kali matahari terbenam tanpa kulihat dua sinarmu.

Entah…

Tanpamu dingin terasa lebih menusuk, sepi terasa lebih menyiksa

Ingin kumemanggilmu, nikmati lagi hadirmu

Semua kata dari indah alam pikirmu

Bahkan diammupun kurindu

Entah…

Tak kurasakan lagi lelah

Tak kupedulikan lagi lemah

Takkan lagi kugelisah…

Asal kamu ada.

Dimana kamu?

Bahkan diammupun kurindu

"dia"

ku rindukanmu malam ini.

Tak sabar menunggu terang hilang

dan gelap datang,

semakin larut, makin jauh ku terhanyut.

bebaskan jiwa ini yang seharian bersembunyi.

coba tak akui  ketiadaanmu buatku sepi.

Sementara itu jauh didalam

hanya dirimu setiap kali dua kelopak ini terpejam.

Bagaimana bisa jemari ini menulis, barisan kalimat yang tiada habis?

Bagaimana bisa dengan manis, kehadiranmu indahkan gerimis?